Part I: TANJUNG BAYANG-BAYANG
Tampat
yang sangat ditakuti oleh penduduk negri sungai adalah Tanjung Bayang-bayang.
Konon tempat ini sangat elok dan hutannya masih sangat alami, dimana jejelaian
daun pandan yang harum tumbuh subur. Pohon jati yang tinggi menjulang langit
menutupi tempat ini dari teriknya sinar mentari dikala siang hari, pokok pohon
ini seperti tiang-tiang yang kokoh pada bangunan istana Firaun. Anak sungai
yang mengitari daerah ini telah membawa segala jenis ikan untuk menumpang
didalamnya. Airnya yang begitu menyejukan dikala dahaga dan makanan yang
berlimpah seperti makanan yang tersedia disurga. Tidak kalah dari itu semua
terdapat harta karun yang terpendam didaerah ini yang diyakini apa bila ada yang
mendapatkannya tak akan miskin sampai tujuh keturunannya. akan tetapi tempat
ini dihuni oleh tiga Gegasi (bahasa yang digunakan oleh penduduk negri sungai
untuk menyebut raksasa), binatang buas dan bannyak orang halus yang disebut
orang bunyian. Penduduk negri sungai meyakini tempat ini adalah kerajaan
makhluk yang tidak kasat mata. Oleh karna itu siapa yang sampai kesana tak akan
bisa kembali pulang untuk selamanya. Ia tak akan tahu lagi jalan untuk pulang
karna sinar matahari yang manghadirkan bayang-bayang itu tertutupi oleh
tingginya pepohonan. Karna tak ada bayangan disana maka penduduk negeri sungai menyebut
tempat ini Tanjung Bayang-Bayang.
Adakah
orang yang sampai kesana ? menurut pengakuan penduduk negri sungai tidak ada
satupun yang pernah kesana dan tidak ada yang mau kesana. Lalu dari mana mereka
tahu tempatnya sedemikian rupa ? ternyata itu adalah cerita dari nenek moyang
mereka, yang diceritakan dari mulut-kemulut sehingga menyebar luas dan dianggap
suatu yang benar. Apakah nenek moyang mereka pernah kesana ? mereka menjawab
tidak tahu, tapi mereka yakin pernah.
Mereka
berkisah dahulu ada penduduk yang hidup dialiran sungai Marbau yang menyatu
dengan arus sungai Kampar. Kisah ini
diawali dengan seorang nenek tua yang
mengail ikan. Dengan tubuhnya yang ranta dia cobah mengayuh sampan kerah hilir
sungai. Ia berangkat pagi dengan persipan ember untuk tempat ikan, dan bekal
untuk makan siangnya, karna kalau-kalau ikannya bannyak beliau akan mengail
sampai petang. Beliau bergerak kearah tepian sungai dan menambatkan sampannya
kepokok pohon tumbang yang besar sehingga sampannya tak terbawa oleh derasnya
arus sungai, itu adalah tempat biasa beliau mengail. Umpan cacing yang
dikaitkan kemata kail yang terbuat dari jarum peniti dan diberi pemberat batu telah
dilempar kedasar sugai yang berarus agak tenang. Tapi sayang hingga siang tak
ada satupun ikan yang bersedia menyantap umpan sang nenek ini. Bekal yang
dibawapun habis sebagai pengganjal perutnya lapar. Pantang pulang sebelum dapat
ikan, nenek ini memutuskan untuk bergerak kehilir sungai yang perairannya cukup
dalam, agaknya disitulah ikan Lais berkumpul pikir sinenek.
Tenyata
benar ikannya begitu bannyak, itu terliahat dari tangkapan ikan dipermukaan.
Tapi sang nenek heran kailnya tak juga dimakan ikan, lama menunggu akhirnya ia
tertidur dalam lelahnya, dengan kail tetap dibiarkan diair. Hembusan angin yang
lebut menerpa wajah dan nyayian para burung hutan semakin menambah nyanyak
tidur sang nenek. Dalam tidurnya ia bermimpi, bahwa dirinya berada sisuatu
daerah yang tak ia kenal. Tempatnya begitu elok dan begitu menyejukan mata. Ia
bergumam tempat ini pasti belum pernah terjamah oleh manusia. Sampai akhirnya
sang nenek dibangunkan oleh sambaran ikan yang menangkap kailnya. Ikan itu
melarikan kail sang nenek dan membawanya kearah hilir sungai dan terus saja
kehilir. Sang nenek dengan semangat mengejar kailnya, harap-harap itu adalah
ikan lais yang besar sehingga bisa dijadikan lauk untuk santapan malamnya.
Kena
kau ikan ! kata sang nenek, saat ia berhasil mendapatkan kailnya kembali. Sang
nenek dengan gagah dan semangat
mengangkat kailnya. Tapi apa yang terjadi ? hannya kepala ikan saja yang
tersisa. Kemana pergi badan ikannya tannya sang nenek yang mencoba menjawab
kebingungannya sendiri. Sang nenek sangat keheranan karna tak Cuma badan ikan
yang hilang, tapi pengayuh sampan pun hilang. Kemana pengayuh sampan ? tannya
nenek kepada dirinya sendiri. Dalam kebingungannya ada Sesutu yang menyentuh
pundak Sang nenek, dengan reflek seadanya, beliau mencoba menengok kebelakang
tapi tak ada siapa-siapa. Saat itu baru nenek tersadar bahwa ia bukan berada
didaerah yang ia kenal, ia telah tersesat. Tersesat di tempat persis seperti
apa yang ada dalam mimpinya. Ia melihat dipinggir sungai ada dua sosok yang
agak mirip dengan manusia, tapi ia hannya memiliki empat jari tangan. Dengan
suara yang parau mereka membuka kata kepada sang nenek. Anaku yang mengambil
ikan dan pengayuh sampanmu. Maka ambilah ini sebagai gantinya ! mereka
memberikan sebongkah emas kepada sang nenek. Sang nenek yang gemetar tak
sanggup berkata apa-apa, makhluk yang begitu menyeramkan tapi bisa berbahasa
manusia manambah ketidak berdayaan sang nenek menghadapi keadaan. Ya Allah selamatkanlah
aku pinta sang nenek dikala takut yang amat sangat itu.
Sampan
itu pun didorong oleh sosok yang beliau sendiripun tidak tahu. ia tak tampak
dipermukaan tapi ia membuat sampan melaju kencang dan mengantar kearah
perjalanan pulang sang nenek. Sampai di Bagan (rumah apung) kepunnyaan sang
nenek, sampanpun berhenti. Saat gemetar sang nenek belum berhenti ada suara
halus yang berbisik ketelinga beliau, “Tolong jangan ceritakan ini kepada
siapapun”. Sang nenekpun menganguk tanda ia. Beliau yang gemetar mencoba
menguatkan dirinya, ia perlahan membuka pintu rumahnya dan barbaring pada
kasurnya yang lusuh. Rumah bagannya sangat sederhana, dengan atapnya yang
terbuat dari daun rumbiah telah dianggap cukup oleh beliau sebagai
perlindungannya dari teriknya panas dan derasnya hujan. sang nenek itu hannya
hidup sebatang kara, suami dan anak-anaknya telah lama meninggal. Ia
mengasingkan diri dari penduduk sekitarnya karna takut merasa dikasihani.
Hari
yang beratpun berlalu, sang nenek merasa ringan badannya hari ini. Ketakutan
akan bersua dengan makhluk yang tak dikenalnya memang masih tersisa tapi sudah
tak begitu terasa. Sang nenek mengucap syukur kepada sang Ilahi karna sampai
hari itu ia masih diberi nyawa. Teringat sebuah pemberian dari makhluk yang
dijumpainya iapun menengok sampanya. Apa ini kata sang nenek ? Ternyata memang
itu adalah sebuah bongkahan emas yang besar, nenekpun meletakan keningnya
dilantai tanda sujud syukur akan sebuah keberkahan yang diberikan Allah
padanya. Untuk memastikan dan memantapkan keyakinan sang nenek bahwa itu adalah
emas, ia berangkat kepasar apung yang terletak jauh di ujung hulu sungai. Ia
kemudian bertannya kepada orang disana apakah ini emas sungguhan ataukah tidak
? satu persatu orang dipasar yang dijumpai sang nenek ditannyainya. Mereka
semua menjawab sama, bahwa itu adalah emas sungguhan. Namun kemudian
orang-orang balik bertannya dari mana sang nenek mendapatkan bongkahan emas itu
? ini adalah rahasia kata sang nenek, tidak boleh diceritakan tambahnya.
Beliaupun cepat-cepat meninggalkan pasar karna takut desakan orang-orang yang ingin
mengetahui dari mana sang beliau mendapatkan bongkahan emas yang begitu besar.
Apakah
kejadiannya Cuma samapai disitu ? ternyata tidak, cerita bahwa nenek
mendapatkan bongkahan emas begitu cepat menyebar. Seluruh penduduk tahu bahwa
ada nenek yang mendapat harta karun, namun tak tahu dari mana asanya ! akhirnya
beberapa penduduk yang penasaran mendatangi rumah sang nenek. Nenek yang semula
keberatan untuk menceritakan ikhwal kejadianya terpaksa harus berbagi
pengalamannya dengan syarat bahwa penduduk kampung tidak akan menceritakan
kepada siapapun. Syaratpun disetujui sebagai tanda bahwa cerita bisa dimulai
oleh sang nenek. Ceritapun telah usai dan nenek meminta agar orang yang hidir
ketika itu tidak menceritakan kepada siapapun. ada yang percaya ada juga yang tidak,
tapi baiklah lebih bannyak yang tidak percaya.
Janji
tinggal janji, nenek tidak menepati janjinya begitu juga orang yang mendengar
cerita sang nenek. kini hampir disemua tempat bercerita bahwa ada orang yang
memakan sepotong ikan dan menggantinya dengan sebongkah emas. Tidak dijumpai
perkumpulan melainkan mereka bercerita tentang keberuntungan sang nenek. Ada
yang merasa takut tapi ada sebahagian yang ingin mencobah tuah akan mendapatkan
emas dari makhluk yang tidak dikenal itu. ada yang memuji keberanian sang nenek
namun ada juga yang mencemooh bahwa sang nenek telah berdusta, dan bahkan ada orang yang
menunjukan kesombongannya dengan terang-terangan ingin beradu kesaktian atas
makhluk yang diceritakan oleh sang nenek. Beliau yang mulai mendengar penduduk
bercerita terus-terusan tentang dirinya dan makhluk itu, mulai merasa khwatir
akan sanksi yang akan diterimanya dari makhluk itu. tidurnya kini tak
mendatangkan kebugaran terhadap tubuhnya, makanan yang dimakanpun tak lagi mendatangkan
tenaga bagi beliau, karna terus-terusan memikirkan apa yang harus dikatakan
kalau makhluk itu datang kepadanya. Tentu ia tak akan bisa berbuat apa-apa.
Ternyata
ketakutan sang nenek adalah benar. Hari ini tak biasanya hujan turun begitu lebat,
padahal hari begitu cerah. Hujan turun dari subuh dan hingga kini juga belum
berhenti. Sore hari, air sungaipun mulai tampak pasang. Terpian sungai sudah
mulai menampakan luapan air dan tampaknya hujan juga belum akan menunjukan
redah. Tak hannya nenek yang tinggal jauh di hilir, para penduduk yang tingaal
dihulupun mulai cemas dan saling menanyakan satu sama lain ada pertanda apakah
ini ? namun tak ada satu pendudukpun yang memberi jawaban pasti sehinga
kebingungan mereka tetap tak menuai ketenangan. Hujan yang memasuki hari ketiga
juga tak kunjung menampakan radahnya, pada hari ketiga ini suasana benar-benar
gelap, angin bertiup sangat kencang. Tak ada satupun penduduk yang berani
keluar rumah untuk menengok kejadian diluar sana. Anak-anak kecil mulai menagis
ketakutan, sementara orang tua mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Petir dan
kilat saling sambar-menyabar, air sungaipun mulai terlihat beriak-riak besar,
para pendudukpun berteriak ketakutan karna ada yang menarik bagan mereka dengan
begitu kuat dan kencang. tolong...tolong…tolong… teriakan yang awalnya keras,
dan sayup-sayup mulai menghilang. Ketiga magrib datang hujan pun redah dan
cuaca kembali normal. Tapi tak hannya cuaca buruk yang hilang, para penduduk
yang hidup disungaipun hilang. Sang nenek beserta penduduknya hilang tak tahu
kemana, tak hannya orangnya sampan dan bagan mereka juga lenyap tak
meninggalkan bekas apa-apa. Kemanakah mereka semua ? kalau ini terjawab tentu
mereka tidak dikatakan hilang !
Tak
pernah ada yang menyelidiki cerita ini apakah benar ataukah tidak. Tapi
penduduk negri sungai memperingatkan kalau tuan-tuan menjumpai ada kumpulan
sampan dan sampan ini berbeda dari sampan biasanya, dan melihat bagan
terapung-apung serta mendengar suara orang berjualan tapi tuan tak melihat satu
orangpun. Maka tuan-tuan telah sampai ke perkampungan orang bunyian yaitu
“Tanjung Bayang-Bayang”.
Penduduk
negri sungai tidak ada seorangpun yang mengetahui dimana persis Tanjung
Bayang-bayang itu. kampong orang bunyian ini tidak akan pernah dijumpai apabila
seseorang ada niat untuk mencarinya. Perkampungan itu hannya bisa dijumpai
secara tidak sengaja atau orang bunyian itu menampakan sendiri tanjung itu.
beberapa penduduk negri sungai pernah beberapa kali tersesat namun tidak pernah
sampai pada tanjung bayang-bayang. Tapi ada beberapa orang mengaku pernah
melintasi kapung itu namun tidak berani singgah untuk memastikan apakah itu
tanjung bayang-bayang atau tidak. Dahulu semua memberikan komentar
mengenai tanjung bayang-bayang ini, tapi
sekarang seiring berjalannya waktu, dimana pergesetan budaya dan kepercayaan
terjadi cerita ini seakan hilang ditelan zaman. Kini penduduk negri tak ada
lagi perasaan takut akan pergi kesungai bahkan orang yang tidak bisa berenang
sekalipun. Para pemuda kampong menganggap cerita itu hannya tahayul, itu adalah
cerita buatan orang kampong untuk menakut-nakuti anak-anak kecil agar jangan
pergi bermain disungai sendirian.
Sebenarnya
tanjung bayang-bayang itu benar adanya, kata salah seorang tetua penduduk negri
sungai bernama Somang yang dipertuan agung “Datung Dubalang Somang”. Tanjung
itu akan tetap abadi hingga tiba hari kiamat tambah beliau. mamang kebanyakan
penduduk tidak tahu diamana tanjung itu. tapi akan tiba masanya dimana seorang
anak muda akan menjumpai pulau itu, belau menyebutkan ciri-ciri bahwa pemuda
itu memiliki akhlak yang luhur, sopan dalam bertutur kata, selain ia tak
bannyak bicara ia juga lebih senang sendirian, karna itu ia tak memiliki
bannyak kawan. Meskipun begitu ia tak terlalu disukai oleh bannyak penduduk
kampong. Pokoknya kalau tuan menjumpainya maka tuan akan tahu dan langsung akan
bisa memastikan bahwa ialah pemuda itu. selesai bercerita Datuk Dubalang Somang
meninggal dalam usianya yang ke 81th.
Part II: NEGRI SUNGAI
Hari
ini begitu cerah, dengan langit tampak begitu indah. Sahut-sahutan burung
kutilang ditambah deruan suara ilalang yang diterpa angin, dan tak ketinggalan
dengan lambaian nyiur yang tampak bagaikan penari. Begitulah suasana pagi yang terlihat
dinegri sungai. Siapa yang singgah kenegri ini, maka ia akan terkagum-kagum
dengan keelokan paras negri sungai. Serta Tak satupun tetamu yang datang
kecuali akan disuguhi gulai patin khas negri ini.Tanah yang berbukit-bukit,
membuat sumber air bersih begitu mudah didapat. Keramahan penduduknya kian
melangkapi bahwa kasih sayang Ilahi ada dinegri ini. Maka sudah sepatutnya
penduduk negri sungai menjaga alam serperti ia menjaga anak sendiri.
Sebahagian
basar penduduk negri sungai bermata pencaharian sebagai nelayan, dan sebagianya
lagi sebagai petani karet. Tidak tanggung-tanggung pendapatan nelayan negri
sungai, hari ini cempiyai mereka penuh dengan ikan linca, salah satu ikan
faforit dinegri sungai. Jaring meraka juga penuh dengan ikan baung dan lais,
ikan yang menjadikan kuliner negri sungai sebagai hidangan terlezat seantero
nusantara. Luka yang mereka pasang hari ini juga berlimpah dengan ikan tapa,
jalai dan ikan toman, yaitu ikan peredador terbesar disepanjang aliran sungai
marbau. Tak kala dari itu semua ikan patin yang didapat dengan menaju dan ikan
kelabau yang didapat dari menubah juga menambah pundi-pundi pendapatan nelayan
hari ini.
Alat
tangkap ikan nelayan negri sungai bermacam-macam dan berbeda fungsi. Untuk
perairan dangkal mereka memasang cempiyai dan bubu, sedangkan untuk perairan
dalam mereka memasang luka serta jaring apung. Untuk menangkap ikan kecil-kecil
diperairan dangkal mereka menggunakan tangguk, sedangkan untuk airnya dalam
mereka memasang kabam. Untuk menangkap
predator besar yang daerah pereairannya luas mereka menggunakan awai, sedangkan
jika luas perairannya kecil kayu yang dijadikan sebagai kerangka. Sungguh alam
telah meyediakan itu semua, yang dibutuhkan hanyalah sebuah kreatifitas dan
kemauan untuk membuat itu semua. Karna
menurut mereka semua itu mungkin jika kita mau, yang tidak mungkin itu hannya
satu yaitu “Allah ada dua” itu baru tidak mungkin kata mereka.
Nelayan
negri sungai mempunyai cara yang unik untuk mengawatkan hasil tangkapan. Yaitu
dengan cara diasapi, ini mereka sebut dengan Menyalai, sehingga hasilnya
menjadi Ikan Salai. Ada juga yang dijemur dibawah sinar matahari, hal ini
mereka sebut dengan ikan asin. Karna rasa ikan tersebut yang asin, rasa asin
itu sendiri didapat dari peroses penjemuran ikan yang ditaburi garam. Tapi
penjemuran ikan hanya bisa dilakukan apabila hari sedang panas-pananya. Oh iya,
kenapa tidak dimasukan didalam kulkas saja kan lebih mudah dan praktis ? masa
itu belum ada kulkas. Jangankan kulkas listrik saja belum ada. Mereka
mengungkapkan “kalaulah tuan pergi mengail jangan lupa bawa tempat yang besar
karna pastilah ikan-ikan berebut menangkap kail tuan”.
Tak
hannya nelayan, tuahpun menaungi petani karet. Pagi mereka menorah getah dan
sorenya sudah bisa dipanen. Pokok getah mereka tumbuh subur, batang-batangnya
lebih besar dari rangkulan orang dewasa. Sungguh tak dapat disangkal tanah yang
mereka injak sehari-hari telah memberi kehidupan bagi tanaman. Bahkan saking
suburnya tanah ini, mereka mengatakan, “andaikan batupun yang tuan tanam maka
ia akan tumbuh, tak usah tuan beri pupuk, tak usah tuan jaga, dan tak usah tuan
sirami ia akan tepat tumbuh juga. Begitulah gambaran mereka untuk menunjukan
begitulah menakjupkannya alam negeri sungai. Tak hannya air yang membawa
kehidupan tapi juga tanah mengorbankan segalanya untuk mereka. segarnya udara
pagi yang mereka hirup tak kalah sejuknya dengan udara siang, sore maupun
malam. Alam yang mereka cintai adalah wujud dari kecintaan mereka pada sang
Ilahi. Siang malam mereka bekerja namun siang malam pula mereka berzikir.
Sehingga tak heran jika lisan mereka begitu terjaga dan perbuatan mereka begitu
bersahaja. Anak kecil mereka rangkul, orang besar mereka sapa. Tentu ini semua
tak lepas dari bimbingan guru-guru mereka. Dahulu para mubaligh berlabuh
ketanah ini dengan membawa ajaran-ajaran luhur islam, meraka menyebutnya dengan
panggilan Ongku. Menskipun para ongku banyak yang pergi dan melanjutkan safar
mereka, tapi ada beberapa juga yang menetap.
Allah
adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan Muhammad adalah utusan_Nya. Sungguh kata-kata
suci ini telah membawa ilham kedamaian dalam hari mereka. siapa yang menyangka
ditengah kesibunkan dunia mereka masih menyempatkan diri untuk belajar Agama.
Suamai mengajak istri, istri mengajak anak dan kadang-kadang sebaliknya agar
sama-sama berangkat kesurau. Awalnya para Ongku mengajarkan Agama dengan
mendatangi rumah penduduk negri sungai satu persatu. Tapi kemudian setelah
Islam membumi dinegri sungai maka penduduk bergotong royong membangun surau.
Ringan sama dijinjing berat sama dipikul, akhirnya surau menjadi dan siap
digunakan untuk berkumpul. Dengan bentuk
yang sederhana yakni didindingi dengan ayaman tikar pandan serta diatapi dengan
daun rumbia, surau siap menjadi tempat ibadah. Suara anak mengaji saat
menjelang magrib, telah menjadi obat bagi para orang tua untuk bergegas pergi
kesurau. Sholat 5 waktu adalah mutlak untuk mereka kerjakan bersama-sama
disurau, bukan sebagai kewajiban melainkan sebagai kebutuhan, layaknya manusia
yang membutuhkan makan agar bisa berjalan.
Bersambung . . . .!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar