Jumat, 20 Januari 2017

  Part I:  TANJUNG BAYANG-BAYANG

Tampat yang sangat ditakuti oleh penduduk negri sungai adalah Tanjung Bayang-bayang. Konon tempat ini sangat elok dan hutannya masih sangat alami, dimana jejelaian daun pandan yang harum tumbuh subur. Pohon jati yang tinggi menjulang langit menutupi tempat ini dari teriknya sinar mentari dikala siang hari, pokok pohon ini seperti tiang-tiang  yang  kokoh pada bangunan istana Firaun. Anak sungai yang mengitari daerah ini telah membawa segala jenis ikan untuk menumpang didalamnya. Airnya yang begitu menyejukan dikala dahaga dan makanan yang berlimpah seperti makanan yang tersedia disurga. Tidak kalah dari itu semua terdapat harta karun yang terpendam didaerah ini yang diyakini apa bila ada yang mendapatkannya tak akan miskin sampai tujuh keturunannya. akan tetapi tempat ini dihuni oleh tiga Gegasi (bahasa yang digunakan oleh penduduk negri sungai untuk menyebut raksasa), binatang buas dan bannyak orang halus yang disebut orang bunyian. Penduduk negri sungai meyakini tempat ini adalah kerajaan makhluk yang tidak kasat mata. Oleh karna itu siapa yang sampai kesana tak akan bisa kembali pulang untuk selamanya. Ia tak akan tahu lagi jalan untuk pulang karna sinar matahari yang manghadirkan bayang-bayang itu tertutupi oleh tingginya pepohonan. Karna tak ada bayangan disana maka penduduk negeri sungai menyebut tempat ini Tanjung Bayang-Bayang.
Adakah orang yang sampai kesana ? menurut pengakuan penduduk negri sungai tidak ada satupun yang pernah kesana dan tidak ada yang mau kesana. Lalu dari mana mereka tahu tempatnya sedemikian rupa ? ternyata itu adalah cerita dari nenek moyang mereka, yang diceritakan dari mulut-kemulut sehingga menyebar luas dan dianggap suatu yang benar. Apakah nenek moyang mereka pernah kesana ? mereka menjawab tidak tahu, tapi mereka yakin pernah.
Mereka berkisah dahulu ada penduduk yang hidup dialiran sungai Marbau yang menyatu dengan arus sungai Kampar.  Kisah ini diawali dengan seorang nenek  tua yang mengail ikan. Dengan tubuhnya yang ranta dia cobah mengayuh sampan kerah hilir sungai. Ia berangkat pagi dengan persipan ember untuk tempat ikan, dan bekal untuk makan siangnya, karna kalau-kalau ikannya bannyak beliau akan mengail sampai petang. Beliau bergerak kearah tepian sungai dan menambatkan sampannya kepokok pohon tumbang yang besar sehingga sampannya tak terbawa oleh derasnya arus sungai, itu adalah tempat biasa beliau mengail. Umpan cacing yang dikaitkan kemata kail yang terbuat dari jarum peniti dan diberi pemberat batu telah dilempar kedasar sugai yang berarus agak tenang. Tapi sayang hingga siang tak ada satupun ikan yang bersedia menyantap umpan sang nenek ini. Bekal yang dibawapun habis sebagai pengganjal perutnya lapar. Pantang pulang sebelum dapat ikan, nenek ini memutuskan untuk bergerak kehilir sungai yang perairannya cukup dalam, agaknya disitulah ikan Lais berkumpul pikir sinenek.
Tenyata benar ikannya begitu bannyak, itu terliahat dari tangkapan ikan dipermukaan. Tapi sang nenek heran kailnya tak juga dimakan ikan, lama menunggu akhirnya ia tertidur dalam lelahnya, dengan kail tetap dibiarkan diair. Hembusan angin yang lebut menerpa wajah dan nyayian para burung hutan semakin menambah nyanyak tidur sang nenek. Dalam tidurnya ia bermimpi, bahwa dirinya berada sisuatu daerah yang tak ia kenal. Tempatnya begitu elok dan begitu menyejukan mata. Ia bergumam tempat ini pasti belum pernah terjamah oleh manusia. Sampai akhirnya sang nenek dibangunkan oleh sambaran ikan yang menangkap kailnya. Ikan itu melarikan kail sang nenek dan membawanya kearah hilir sungai dan terus saja kehilir. Sang nenek dengan semangat mengejar kailnya, harap-harap itu adalah ikan lais yang besar sehingga bisa dijadikan lauk untuk santapan malamnya.
Kena kau ikan ! kata sang nenek, saat ia berhasil mendapatkan kailnya kembali. Sang nenek dengan gagah  dan semangat mengangkat kailnya. Tapi apa yang terjadi ? hannya kepala ikan saja yang tersisa. Kemana pergi badan ikannya tannya sang nenek yang mencoba menjawab kebingungannya sendiri. Sang nenek sangat keheranan karna tak Cuma badan ikan yang hilang, tapi pengayuh sampan pun hilang. Kemana pengayuh sampan ? tannya nenek kepada dirinya sendiri. Dalam kebingungannya ada Sesutu yang menyentuh pundak Sang nenek, dengan reflek seadanya, beliau mencoba menengok kebelakang tapi tak ada siapa-siapa. Saat itu baru nenek tersadar bahwa ia bukan berada didaerah yang ia kenal, ia telah tersesat. Tersesat di tempat persis seperti apa yang ada dalam mimpinya. Ia melihat dipinggir sungai ada dua sosok yang agak mirip dengan manusia, tapi ia hannya memiliki empat jari tangan. Dengan suara yang parau mereka membuka kata kepada sang nenek. Anaku yang mengambil ikan dan pengayuh sampanmu. Maka ambilah ini sebagai gantinya ! mereka memberikan sebongkah emas kepada sang nenek. Sang nenek yang gemetar tak sanggup berkata apa-apa, makhluk yang begitu menyeramkan tapi bisa berbahasa manusia manambah ketidak berdayaan sang nenek menghadapi keadaan. Ya Allah selamatkanlah aku pinta sang nenek dikala takut yang amat sangat itu.
Sampan itu pun didorong oleh sosok yang beliau sendiripun tidak tahu. ia tak tampak dipermukaan tapi ia membuat sampan melaju kencang dan mengantar kearah perjalanan pulang sang nenek. Sampai di Bagan (rumah apung) kepunnyaan sang nenek, sampanpun berhenti. Saat gemetar sang nenek belum berhenti ada suara halus yang berbisik ketelinga beliau, “Tolong jangan ceritakan ini kepada siapapun”. Sang nenekpun menganguk tanda ia. Beliau yang gemetar mencoba menguatkan dirinya, ia perlahan membuka pintu rumahnya dan barbaring pada kasurnya yang lusuh. Rumah bagannya sangat sederhana, dengan atapnya yang terbuat dari daun rumbiah telah dianggap cukup oleh beliau sebagai perlindungannya dari teriknya panas dan derasnya hujan. sang nenek itu hannya hidup sebatang kara, suami dan anak-anaknya telah lama meninggal. Ia mengasingkan diri dari penduduk sekitarnya karna takut merasa dikasihani.
Hari yang beratpun berlalu, sang nenek merasa ringan badannya hari ini. Ketakutan akan bersua dengan makhluk yang tak dikenalnya memang masih tersisa tapi sudah tak begitu terasa. Sang nenek mengucap syukur kepada sang Ilahi karna sampai hari itu ia masih diberi nyawa. Teringat sebuah pemberian dari makhluk yang dijumpainya iapun menengok sampanya. Apa ini kata sang nenek ? Ternyata memang itu adalah sebuah bongkahan emas yang besar, nenekpun meletakan keningnya dilantai tanda sujud syukur akan sebuah keberkahan yang diberikan Allah padanya. Untuk memastikan dan memantapkan keyakinan sang nenek bahwa itu adalah emas, ia berangkat kepasar apung yang terletak jauh di ujung hulu sungai. Ia kemudian bertannya kepada orang disana apakah ini emas sungguhan ataukah tidak ? satu persatu orang dipasar yang dijumpai sang nenek ditannyainya. Mereka semua menjawab sama, bahwa itu adalah emas sungguhan. Namun kemudian orang-orang balik bertannya dari mana sang nenek mendapatkan bongkahan emas itu ? ini adalah rahasia kata sang nenek, tidak boleh diceritakan tambahnya. Beliaupun cepat-cepat meninggalkan pasar karna takut desakan orang-orang yang ingin mengetahui dari mana sang beliau mendapatkan bongkahan emas yang begitu besar.
Apakah kejadiannya Cuma samapai disitu ? ternyata tidak, cerita bahwa nenek mendapatkan bongkahan emas begitu cepat menyebar. Seluruh penduduk tahu bahwa ada nenek yang mendapat harta karun, namun tak tahu dari mana asanya ! akhirnya beberapa penduduk yang penasaran mendatangi rumah sang nenek. Nenek yang semula keberatan untuk menceritakan ikhwal kejadianya terpaksa harus berbagi pengalamannya dengan syarat bahwa penduduk kampung tidak akan menceritakan kepada siapapun. Syaratpun disetujui sebagai tanda bahwa cerita bisa dimulai oleh sang nenek. Ceritapun telah usai dan nenek meminta agar orang yang hidir ketika itu tidak menceritakan kepada siapapun. ada yang percaya ada juga yang tidak, tapi baiklah lebih bannyak yang tidak percaya.
Janji tinggal janji, nenek tidak menepati janjinya begitu juga orang yang mendengar cerita sang nenek. kini hampir disemua tempat bercerita bahwa ada orang yang memakan sepotong ikan dan menggantinya dengan sebongkah emas. Tidak dijumpai perkumpulan melainkan mereka bercerita tentang keberuntungan sang nenek. Ada yang merasa takut tapi ada sebahagian yang ingin mencobah tuah akan mendapatkan emas dari makhluk yang tidak dikenal itu. ada yang memuji keberanian sang nenek namun ada juga yang mencemooh bahwa sang nenek telah  berdusta, dan bahkan ada orang yang menunjukan kesombongannya dengan terang-terangan ingin beradu kesaktian atas makhluk yang diceritakan oleh sang nenek. Beliau yang mulai mendengar penduduk bercerita terus-terusan tentang dirinya dan makhluk itu, mulai merasa khwatir akan sanksi yang akan diterimanya dari makhluk itu. tidurnya kini tak mendatangkan kebugaran terhadap tubuhnya, makanan yang dimakanpun tak lagi mendatangkan tenaga bagi beliau, karna terus-terusan memikirkan apa yang harus dikatakan kalau makhluk itu datang kepadanya. Tentu ia tak akan bisa berbuat apa-apa.
Ternyata ketakutan sang nenek adalah benar. Hari ini tak biasanya hujan turun begitu lebat, padahal hari begitu cerah. Hujan turun dari subuh dan hingga kini juga belum berhenti. Sore hari, air sungaipun mulai tampak pasang. Terpian sungai sudah mulai menampakan luapan air dan tampaknya hujan juga belum akan menunjukan redah. Tak hannya nenek yang tinggal jauh di hilir, para penduduk yang tingaal dihulupun mulai cemas dan saling menanyakan satu sama lain ada pertanda apakah ini ? namun tak ada satu pendudukpun yang memberi jawaban pasti sehinga kebingungan mereka tetap tak menuai ketenangan. Hujan yang memasuki hari ketiga juga tak kunjung menampakan radahnya, pada hari ketiga ini suasana benar-benar gelap, angin bertiup sangat kencang. Tak ada satupun penduduk yang berani keluar rumah untuk menengok kejadian diluar sana. Anak-anak kecil mulai menagis ketakutan, sementara orang tua mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Petir dan kilat saling sambar-menyabar, air sungaipun mulai terlihat beriak-riak besar, para pendudukpun berteriak ketakutan karna ada yang menarik bagan mereka dengan begitu kuat dan kencang. tolong...tolong…tolong… teriakan yang awalnya keras, dan sayup-sayup mulai menghilang. Ketiga magrib datang hujan pun redah dan cuaca kembali normal. Tapi tak hannya cuaca buruk yang hilang, para penduduk yang hidup disungaipun hilang. Sang nenek beserta penduduknya hilang tak tahu kemana, tak hannya orangnya sampan dan bagan mereka juga lenyap tak meninggalkan bekas apa-apa. Kemanakah mereka semua ? kalau ini terjawab tentu mereka tidak dikatakan hilang !
Tak pernah ada yang menyelidiki cerita ini apakah benar ataukah tidak. Tapi penduduk negri sungai memperingatkan kalau tuan-tuan menjumpai ada kumpulan sampan dan sampan ini berbeda dari sampan biasanya, dan melihat bagan terapung-apung serta mendengar suara orang berjualan tapi tuan tak melihat satu orangpun. Maka tuan-tuan telah sampai ke perkampungan orang bunyian yaitu “Tanjung Bayang-Bayang”.
Penduduk negri sungai tidak ada seorangpun yang mengetahui dimana persis Tanjung Bayang-bayang itu. kampong orang bunyian ini tidak akan pernah dijumpai apabila seseorang ada niat untuk mencarinya. Perkampungan itu hannya bisa dijumpai secara tidak sengaja atau orang bunyian itu menampakan sendiri tanjung itu. beberapa penduduk negri sungai pernah beberapa kali tersesat namun tidak pernah sampai pada tanjung bayang-bayang. Tapi ada beberapa orang mengaku pernah melintasi kapung itu namun tidak berani singgah untuk memastikan apakah itu tanjung bayang-bayang atau tidak. Dahulu semua memberikan komentar mengenai  tanjung bayang-bayang ini, tapi sekarang seiring berjalannya waktu, dimana pergesetan budaya dan kepercayaan terjadi cerita ini seakan hilang ditelan zaman. Kini penduduk negri tak ada lagi perasaan takut akan pergi kesungai bahkan orang yang tidak bisa berenang sekalipun. Para pemuda kampong menganggap cerita itu hannya tahayul, itu adalah cerita buatan orang kampong untuk menakut-nakuti anak-anak kecil agar jangan pergi bermain disungai sendirian.
Sebenarnya tanjung bayang-bayang itu benar adanya, kata salah seorang tetua penduduk negri sungai bernama Somang yang dipertuan agung “Datung Dubalang Somang”. Tanjung itu akan tetap abadi hingga tiba hari kiamat tambah beliau. mamang kebanyakan penduduk tidak tahu diamana tanjung itu. tapi akan tiba masanya dimana seorang anak muda akan menjumpai pulau itu, belau menyebutkan ciri-ciri bahwa pemuda itu memiliki akhlak yang luhur, sopan dalam bertutur kata, selain ia tak bannyak bicara ia juga lebih senang sendirian, karna itu ia tak memiliki bannyak kawan. Meskipun begitu ia tak terlalu disukai oleh bannyak penduduk kampong. Pokoknya kalau tuan menjumpainya maka tuan akan tahu dan langsung akan bisa memastikan bahwa ialah pemuda itu. selesai bercerita Datuk Dubalang Somang meninggal dalam usianya yang ke 81th.

Part II: NEGRI SUNGAI
Hari ini begitu cerah, dengan langit tampak begitu indah. Sahut-sahutan burung kutilang ditambah deruan suara ilalang yang diterpa angin, dan tak ketinggalan dengan lambaian nyiur yang tampak bagaikan penari. Begitulah suasana pagi yang terlihat dinegri sungai. Siapa yang singgah kenegri ini, maka ia akan terkagum-kagum dengan keelokan paras negri sungai. Serta Tak satupun tetamu yang datang kecuali akan disuguhi gulai patin khas negri ini.Tanah yang berbukit-bukit, membuat sumber air bersih begitu mudah didapat. Keramahan penduduknya kian melangkapi bahwa kasih sayang Ilahi ada dinegri ini. Maka sudah sepatutnya penduduk negri sungai menjaga alam serperti ia menjaga anak sendiri.
Sebahagian basar penduduk negri sungai bermata pencaharian sebagai nelayan, dan sebagianya lagi sebagai petani karet. Tidak tanggung-tanggung pendapatan nelayan negri sungai, hari ini cempiyai mereka penuh dengan ikan linca, salah satu ikan faforit dinegri sungai. Jaring meraka juga penuh dengan ikan baung dan lais, ikan yang menjadikan kuliner negri sungai sebagai hidangan terlezat seantero nusantara. Luka yang mereka pasang hari ini juga berlimpah dengan ikan tapa, jalai dan ikan toman, yaitu ikan peredador terbesar disepanjang aliran sungai marbau. Tak kala dari itu semua ikan patin yang didapat dengan menaju dan ikan kelabau yang didapat dari menubah juga menambah pundi-pundi pendapatan nelayan hari ini.
Alat tangkap ikan nelayan negri sungai bermacam-macam dan berbeda fungsi. Untuk perairan dangkal mereka memasang cempiyai dan bubu, sedangkan untuk perairan dalam mereka memasang luka serta jaring apung. Untuk menangkap ikan kecil-kecil diperairan dangkal mereka menggunakan tangguk, sedangkan untuk airnya dalam mereka memasang kabam.  Untuk menangkap predator besar yang daerah pereairannya luas mereka menggunakan awai, sedangkan jika luas perairannya kecil kayu yang dijadikan sebagai kerangka. Sungguh alam telah meyediakan itu semua, yang dibutuhkan hanyalah sebuah kreatifitas dan kemauan untuk membuat itu semua.  Karna menurut mereka semua itu mungkin jika kita mau, yang tidak mungkin itu hannya satu yaitu “Allah ada dua” itu baru tidak mungkin kata mereka.
Nelayan negri sungai mempunyai cara yang unik untuk mengawatkan hasil tangkapan. Yaitu dengan cara diasapi, ini mereka sebut dengan Menyalai, sehingga hasilnya menjadi Ikan Salai. Ada juga yang dijemur dibawah sinar matahari, hal ini mereka sebut dengan ikan asin. Karna rasa ikan tersebut yang asin, rasa asin itu sendiri didapat dari peroses penjemuran ikan yang ditaburi garam. Tapi penjemuran ikan hanya bisa dilakukan apabila hari sedang panas-pananya. Oh iya, kenapa tidak dimasukan didalam kulkas saja kan lebih mudah dan praktis ? masa itu belum ada kulkas. Jangankan kulkas listrik saja belum ada. Mereka mengungkapkan “kalaulah tuan pergi mengail jangan lupa bawa tempat yang besar karna pastilah ikan-ikan berebut menangkap kail tuan”.
Tak hannya nelayan, tuahpun menaungi petani karet. Pagi mereka menorah getah dan sorenya sudah bisa dipanen. Pokok getah mereka tumbuh subur, batang-batangnya lebih besar dari rangkulan orang dewasa. Sungguh tak dapat disangkal tanah yang mereka injak sehari-hari telah memberi kehidupan bagi tanaman. Bahkan saking suburnya tanah ini, mereka mengatakan, “andaikan batupun yang tuan tanam maka ia akan tumbuh, tak usah tuan beri pupuk, tak usah tuan jaga, dan tak usah tuan sirami ia akan tepat tumbuh juga. Begitulah gambaran mereka untuk menunjukan begitulah menakjupkannya alam negeri sungai. Tak hannya air yang membawa kehidupan tapi juga tanah mengorbankan segalanya untuk mereka. segarnya udara pagi yang mereka hirup tak kalah sejuknya dengan udara siang, sore maupun malam. Alam yang mereka cintai adalah wujud dari kecintaan mereka pada sang Ilahi. Siang malam mereka bekerja namun siang malam pula mereka berzikir. Sehingga tak heran jika lisan mereka begitu terjaga dan perbuatan mereka begitu bersahaja. Anak kecil mereka rangkul, orang besar mereka sapa. Tentu ini semua tak lepas dari bimbingan guru-guru mereka. Dahulu para mubaligh berlabuh ketanah ini dengan membawa ajaran-ajaran luhur islam, meraka menyebutnya dengan panggilan Ongku. Menskipun para ongku banyak yang pergi dan melanjutkan safar mereka, tapi ada beberapa juga yang menetap.

Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan Muhammad adalah utusan_Nya. Sungguh kata-kata suci ini telah membawa ilham kedamaian dalam hari mereka. siapa yang menyangka ditengah kesibunkan dunia mereka masih menyempatkan diri untuk belajar Agama. Suamai mengajak istri, istri mengajak anak dan kadang-kadang sebaliknya agar sama-sama berangkat kesurau. Awalnya para Ongku mengajarkan Agama dengan mendatangi rumah penduduk negri sungai satu persatu. Tapi kemudian setelah Islam membumi dinegri sungai maka penduduk bergotong royong membangun surau. Ringan sama dijinjing berat sama dipikul, akhirnya surau menjadi dan siap digunakan untuk berkumpul.  Dengan bentuk yang sederhana yakni didindingi dengan ayaman tikar pandan serta diatapi dengan daun rumbia, surau siap menjadi tempat ibadah. Suara anak mengaji saat menjelang magrib, telah menjadi obat bagi para orang tua untuk bergegas pergi kesurau. Sholat 5 waktu adalah mutlak untuk mereka kerjakan bersama-sama disurau, bukan sebagai kewajiban melainkan sebagai kebutuhan, layaknya manusia yang membutuhkan makan agar bisa berjalan.

Bersambung . . . .!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar